Rabu, 07 November 2012 | By: Zahra Abdullah

puisi tentang Ayah

Bercengkrama dengan Ayah


ketika ku berpuisi
musim ini tengah kerontang Ayah,
kering, berdebu
tiada tetes-tetes air
rindu menanti kabar sang hujan
seperti halnya aku
yang merindumu


ketika ku berpusi
ruang ini sepi, Ayah
kosong
dan aku menyudut di tengah gelap
masih tetap merindumu


sayup sang angin berbisik
namun terlalu lirih
aku tak dapat mendengarnya
aku penasaran
mungkinkah ia berbicara tentangmu?


saat aku menatap langit
kulihat merpati mulai berterbangan
apakah ia menyampaikan salamku?
Dapatkah kau dengar aku, Ayah?


lama ku pandang namamu
terukir dalam nisan dihadapku
dalam isak aku mengenang
Ayah, aku merindu


(From my deepest heart to my beloved father)


-Anna berkarya

0 komentar:

Posting Komentar