Jumat, 02 November 2012 | By: Zahra Abdullah

cerpen cinta/first love/tulus


Tulus
a story by anna berkarya

“Shinta, kamu masih ingat pertama kali kita bertemu?” kata Rama pada suatu hari, ketika kami sedang duduk di bawah pohon dekat sekolah kami.
“Yah, aku masih ingat Ram.” Jawabku. Ingatanku melayang ke masa lalu.
            Rama adalah sahabat terbaikku. Kita mulai berteman sejak SD, waktu itu ada segerombolan anak laki-laki yang menggangguku. Dia mengambil tasku dan melempar-lemparkan tasku ke teman-teman lainnya. Saat itu aku baru kelas 3 SD. Aku mencoba meminta pertolongan pada teman-temanku tetapi tak ada yang berani. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang merebut tasku dari para penjahat kecil itu. Dia adalah Raditya Rama Saputra, murid baru pindahan dari Jakarta. Sejak itulah kami mulai bersahabat, dia selalu menjaga dan memperhatikan aku. Bagiku, Rama adalah sesosok malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk menjagaku. Saat SMP dan SMA, Rama pun memilih sekolah yang sama denganku. Hari-hari selalu kita lalui bersama. Saat suka maupun duka, aku terbiasa menghadapinya dengan Rama. Sekarang, kami tengah bersekolah di sebuah SMA Negeri di Semarang.
“Loh, kok malah melamun Shin?” ucap Rama yang segera membuyarkan lamunanku.
“Oh..ehm..maaf Ram aku jadi teringat masa kecil kita dulu.” Kataku gelagapan.
“Oh..santai saja lagi Shin, tidak perlu gugup seperti itu.” Kata Rama sambil tersenyum.
Oh Tuhan...mengapa aku jadi lemas seperti ini ketika aku melihat lesung pipit yang tersungging ketika ia sedang tersenyum. Sungguh...aku merasakan sebuah getaran yang tak jelas harmoninya. Apakah itu cinta? Tidak! Aku terlalu takut menyebutnya sebagai cinta. Sungguh, aku tidak ingin menodai persahabatan ini. Karena aku amat sangat menghargainya. Dan aku tidak ingin merusaknya dengan perasaan yang tak menentu ini.
“Shinta, kamu kenapa? Kok bengong lagi?” kata Rama lembut.
“Aku tidak apa-apa Ram, hanya sedikit pusing.” Kataku mencoba mencari alasan.
“Pusing kenapa? apa kamu sakit? Pasti gara-gara waktu di kantin tadi kamu cuma makan sedikit kan? Aku kan sudah bilang, pola makan kamu harus dijaga. Nanti kalau penyakit kamu kambuh bagaimana? Kamu juga kan yang merasakan sakitnya?” ucap Rama penuh perhatian.
“Iya Ram, lagian hanya pusing biasa kok, sebentar lagi juga sembuh.” Ucapku sedikit kesal, kerena Rama selalu bersikap berlebihan. Bahkan ia mulai mengatur jadwal makan dan istirahatku. Tapi...aku sangat menikmatinya. Bukankah diperhatikan oleh orang yang kita cintai itu menyenangkan? Ups..maksudnya orang yang kita sayangi.
***
Pagi yang cerah …
Aku bersiap untuk mandi, tapi aku terkaget oleh bunyi klakson sepeda motor yang sudah terparkir rapi di depan rumahku. Rama, selalu saja ia datang terlalu pagi (menurutku). Aku membuka pintu depan. Berdirilah Rama yang siap ’mengkhutbahiku’ karena melihatku yang belum mandi.
            “Jam berapa sekarang ? Kok belum mandi sih. Anak perempuan itu bangunnya pagi. Terus, bantu orang tua. Bukannya asyik tidur sampai siang begini dong.” Kata Rama seperti Pak Ustad yang menyadarkan para dukun dari kesesatan. Aku mencoba mengalah dan menyuruh Rama untuk menungguku karena percuma saja jika berdebat dengan Rama.
***
            Hari ini, kami kedatangan siswa baru dari Bandung. Mita Arneita. Seorang perempuan yang cantik, kalem dan santun. Aku yakin, pasti saat ini mata anak laki-laki di kelasku langsung melotot melihat Mita. Apalagi Satria, sang playboy cap teri, matanya serasa akan keluar dari kelopaknya dan tanpa berkedip sedikitpun saat menatap Mita. Seperti seekor kucing yang kelaparan sedang menatap ikan asin di meja makan. Benar-benar pandangan yang sangat menjijikkan. Tunggu ! Tapi tidak semua anak laki-laki melotot seperti itu. Seorang laki-laki yang tak asing bagiku. Rama, saat teman-temannya tengah asyik membicarakan kecantikan Mita, ia dengan cueknya men-sketsa sebuah gambar. Tanpa peduli dengan kehadiran Mita.
.........................................................................
            Saat aku tengah menikmati bakso di kantin sekolah bersama Rama tiba-tiba ada suara langkah yang mendekat.
            “Aku boleh gabung dengan kalian? Sebelumnya aku minta maaf sudah mengganggu waktu makan kalian. Aku tidak tahu harus gabung dengan siapa lagi. Apa kalian keberatan ?” Kata Mita dengan suara yang amat sangat lembut sekali. Dan itu semua sangat berbeda dengan kepribadianku selama ini.
            “Oh … tidak apa-apa kok, silahkan saja kalau kamu mau gabung. Lagi pula kami kan sedang santai, jadi sama sekali tidak mengganggu.” Ucapku selembut mungkin.
            Semenjak hadirnya Mita, aku yang semula hanya berdua dengan Rama, kini menjadi tiga sahabat yang akrab. Entah mengapa, aku sedikit tidak suka dengan Mita. Padahal, Mita begitu baik padaku. Mungkin karena dengan adanya Mita perhatian Rama kepadaku menjadi berkurang. Buktinya, Rama jarang menjemputku ke sekolah. Dan sering kulihat Mita asyik membonceng di motor Rama saat pulang sekolah. Aku mulai curiga dengan perubahan Rama. Apa dia mulai jatuh cinta dengan Mita ? Memang sih wajar jika Rama menyukai Mita, lagipula Mita itu cantik. Laki-laki mana yang tak tertarik padanya ?
* * *
            Sore itu, Mita berkunjung ke rumahku. Dia ingin meminjam buku catatan kimiaku. Saat aku tengah mencari buku catatanku yang terselip di rak buku, tiba-tiba Mita menarik tanganku dan menyuruhku duduk.
            “Shinta … sebenarnya ada yang ingin aku katakan sama kamu. Tapi … aku harap kamu tidak tersinggung.”
            “Bicara saja Mit, kamu tidak perlu sungkan begitu. Kita kan sudah bersahabat, jadi tidak perlu menutupi sesuatu seperti itu. Aku janji tidak akan tersinggung.” Ucapku berusaha meyakinkan Mita.
            “Ehm … begini Shin, sebenarnya aku dan Rama sudah pacaran. Kamu tidak keberatan kan Shin ?” Kata Mita.
            Apa ? Mita pacaran sama Rama ?
            Tidak !!! ini pasti mimpi, Tuhan tolong sadarkan aku dari mimpi buruk ini. Aku benar-benar tidak rela melepaskan Rama. Sungguh, aku tidak ingin kehilangan senyum dan perhatiannya untukku. Kenapa Rama lebih memilih Mita? Apa dia tidak tahu bahwa selama ini aku mulai menyukainya ? Apa dia tidak ingat bahwa akulah yang selalu ada di sisinya. Aku yang memperhatikan dia. Aku yang setia mendengarkan cerita-ceritanya. Aku … aku … bukan Mita. Jerit hatiku yang mulai menangis.
            “Shinta ? Kamu tidak keberatan kan ?” kata Mita mengulangi pertanyaannya.
            “Eh … em tentu saja tidak, Mit. Lagipula, asalkan kalian bahagia aku juga bahagia.” Ucapku yang sangat berlawanan dengan isi hatiku saat ini.
            “Syukurlah … dan ada satu lagi Shin. Aku harap mulai sekarang kamu jangan dekat-dekat lagi dengan Rama. Yah, aku cuma tidak mau kamu dicap sebagai perempuan yang suka mendekati pacar orang lain.” Kata Mita dengan pedas.
            “Maksud kamu apa, Mit ? Asal kamu tahu, semua orang sudah mengetahui bahwa aku dan Rama itu bersahabat sejak dulu. Dan kamu tidak berhak memisahkan kita.” Kataku emosi.
            “Asal kamu tahu ya Shin. Rama itu benar-benar cinta sama aku. Dan dia sudah bosan bersahabat dengan kamu. Buktinya dia lebih suka mengantarku pulang dan pergi ke sekolah kan ? Dan satu lagi, dia berkata kepadaku bahwa dia sudah tidak ingin bertemu kamu lagi. Kalau aku jadi kamu, aku pasti akan pindah dari sekolah ini. Karena hidupku pasti tak akan berarti jika dibenci oleh sahabatku sendiri.” Kata Mita yang sangat menusuk hatiku.
            “Diam kamu Mit ! Aku tidak akan percaya semua kata-kata kamu. Kamu itu tak lebih dari seorang pembual. Aku yakin Rama tidak mungkin seperti itu.” Kataku sambil terisak.
            “Okey … kalau begitu kita buktikan, 2 hari lagi kamu ulang tahun kan ? Aku yakin, dia tidak akan ingat dan tidak akan hadir di pesta ulang tahunmu ! Dengar baik-baik Shin, perlahan Rama akan mulai melupakanmu dan seluruh perhatiannya hanya tertuju padaku. Dan kisah RAMA-SHINTA tidak akan berakhir dengan bahagia. Sebab akulah yang menjadi dalangnya.” Kata Mita dengan seringai jahatnya.
* * *
2 hari kemudian ….
            “Happy Birthday Shinta !” kata Clara, teman sekelasku.
            “Terima kasih Clar, kamu masih ingat saja ulang tahunku.” Kataku pada Clara.
            “Ya pastilah, by the way ulang tahun kamu kali ini mau dirayakan di mana?” kata Clara bersemangat.
            Aku jadi teringat, dulu setiap aku ulang tahun Rama selalu mengajakku dan teman – teman sekelasku untuk merayakannya di tempat-tempat yang sejuk di kebun teh, di pinggir sungai, di dekat air terjun bahkan pernah di sebuah pedesaan yang belum terjamah oleh polusi. Tapi sekarang, jangankan merayakannya, mengucapkannya pun belum sempat ia lakukan. Padahal, biasanya Rama adalah orang pertama yang mengucapkannya.
            “Aku juga tidak tahu Clar, mungkin aku akan merayakannya di rumahku sendiri. Dan mungkin tanpa Rama.” Jawabku lemah.
            “Shin … sebenarnya kalian itu kenapa sih ? Aku perhatikan akhir-akhir ini kalian jarang bersama. Apa kalian sedang ada masalah ?” kata Clara prihatin.
            “Entah Clar, aku juga tidak tahu sampai kapan Rama menjauhiku.” Jawabku sambil berlalu di hadapan Clara.
            Mita benar, Rama tidak hadir di acara ulang tahunku. Apa dia benar-benar sudah berubah ? Tuhan, tolong jangan biarkan semua ini terjadi. Aku sangat menyayangi Rama. Dan aku tidak ingin kehilangannya. Tiba-tiba Rama dan Mita menghampiriku yang tengah duduk di taman sekolah dan seketika membuyarkan lamunanku.
            “Shinta, aku minta maaf tidak bisa datang ke pesta ulang tahunmu tadi malam. Sungguh, aku sangat menyesal karena …” Rama tidak melanjutkan kata-katanya.
            “Karena Rama pergi denganku ke sebuah acara yang lebih penting daripada acaramu.” Potong Mita sambil menggandeng lengan Rama mesra.
Rama menepis tangan Mita dan berusaha untuk menjelaskan kejadiannya. Namun, aku tidak mau tahu dan segera berlari dari hadapan mereka. Bagiku semua itu sudah cukup jelas. Rama lebih memilih Mita daripada aku.
            “Rama, aku sangat mencintai kamu. Sungguh, perasaanku amatlah tulus tanpa mengharapkan kamu untuk membalasnya. Dan aku akan merelakanmu jika kamu memang memilih orang lain. Tapi, mengapa orang lain itu harus Mita ? Apa kamu tidak tahu siapa Mita sebenarnya.” Jerit hatiku yang mulai terluka.
* * *
            Hari ini, aku tidak berangkat sekolah. Karena aku tak ingin teman – temanku melihat mataku yang sembab gara-gara menangis semalaman. Lalu, aku membuat alasan tidak enak badan agar orang tuaku mengijinkanku untuk istirahat di rumah.
            Tok … tok … tok …
            Ku dengar suara pintu rumahku diketuk. Kubuka jendela untuk mengetahui siapakah yang bertamu. Aku bergegas menuju pintu depan untuk membukakan pintu saat kulihat Rama berdiri sambil membawa parsel buah. Namun kuurungkan niatku saat kulihat Mita berdiri di sampingnya. Lalu aku kembali ke kamarku tanpa memperdulikan kehadiran mereka.
            Kubenamkan wajahku di atas bantal empukku. Merenungkan semua permasalahanku. Perlahan ku coba bangkit dan meraih buku harianku. Aku mencoba mencurahkan seluruh isi hatiku melalui tulisan – tulisan di sebuah buku mungil itu.
            Mendung gemuruhkan pedihku
            Rintik hujan enggan menyapaku
            Berlalu … tiada gemingkan ragu
            Yang mulai menyusup dalam kalbu

Angin …berhentilah tiupkan namanya
Ombak … hentikan langkah kecilku untuknya
Bintang … jangan terangi lagi pandangku
            Karena aku tak ingin melihatnya lagi di mimpiku
Embun … jangan biarkan aku meneteskan air mata untuknya
Burung … bawa terbang hatiku agar tak hinggap lagi padanya
Cinta … menjauhlah dariku … aku tak ingin rasakan lagi derita batin ini
* * *
            Keesokan harinya, Rama datang menjemputku untuk berangkat sekolah dengannya. Namun aku justru menghampiri Mang Udin, sopir keluargaku untuk mengantarkanku ke sekolah.
            Sesampainya di sekolah, aku tidak berbicara sepatah katapun pada Rama. Hatiku terlalu sakit jika berhadapan dengannya. Saat pelajaran kosong, Rama menarik tanganku dan memaksaku mengikutinya. Rama membawaku ke taman sekolah.
            “Shinta … aku minta maaf karena sudah membuatmu marah. Aku memang salah karena selama ini aku sudah mengecewakanmu. Tapi aku mohon Shin, jangan siksa aku dengan sikapmu yang tak acuh seperti ini.” Kata Rama sambil menggenggam tanganku.
            “ … “ aku tetap diam, karena aku tidak tahu harus berbicara apa lagi. Di satu sisi aku masih sangat menyayangi Rama dan berharap bisa seperti dulu lagi. Tapi di sisi lain aku sangat kecewa dengannya. Hatiku hancur dibuatnya dan aku tidak ingin merasakannya lagi.
            “Shinta, aku mohon bicaralah. Aku akan melakukan apapun agar kamu mau memaafkanku.” Bisik Rama.
            “Aku ingin kamu pergi Ram ! karena aku tidak ingin melihatmu lagi !” teriakku sambil melepaskan tanganku di genggamannya.
            “Baik … kalau itu mau kamu. Tapi aku harap setelah itu kamu mau memaafkanku.” Kata Rama sambil menunduk.
Aku segera berlalu dan tak menggubris kata-katanya
* * *
Minggu yang mendung,
            “Shinta ! Bangun sayang, sampai kapan kamu mau tidur terus ?” teriak Bundaku dari luar kamarku.
            “Hooaammh … sebentar lagi Bunda, masih ngantuk nih.” Jawabku sambil menarik selimut agar menutupi seluruh tubuhku.
            Tadi malam, hujan terus mengguyur Semarang dan sekitarnya. Hingga pagi hari ini pun masih menyisakan kabut-kabut pekat dan berhawa dingin yang membuatku enggan beranjak dari tempat tidurku.
            “Shinta bangun dong, ada teman kamu nih.” Teriak Bunda lagi.
            “Uh … siapa sih yang bertamu pagi-pagi begini.” Keluhku
            Aku segera beranjak dan mencuci wajahku. Sesampainya di ruang tamu, kulihat Mita tengah duduk menunduk sambil memegangi sebuah buku kecil. Dia tidak menyadari kehadiranku, lalu ku tepuk pundaknya.
            “Tumben, mau apa kamu ke sini ? Apa kamu mau memamerkan hubungan kamu dengan Rama padaku lagi ? Maaf Mit, aku tidak tertarik.” Ucapku dingin
            Dan tidak terduga, tiba-tiba Mita bersimpuh di depanku sambil menangis
            “Maafkan aku Shin … ini semua salahku. Aku benar-benar menyesal telah melakukan semua ini. Dan menghancurkan persahabatan kamu dan Rama. Sungguh Shin, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya dibutakan oleh rasa cintaku. Aku mohon maafkan aku Shin.” Kata Mita dengan air mata berhamburan.
            Aku mencoba membangunkan Mita dan menyuruhnya duduk lagi. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang diucapkan Mita.
            “Kamu tenang dulu Mit, sekarang coba kamu jelaskan satu per satu. Aku tidak mengerti yang kamu bicarakan.” Kataku bingung.
            “Shin … aku cinta sama Rama. Dari pertama kali bertemu aku sudah menyimpan rasa ini. Dan aku sangat cemburu dengan kedekatan kalian. Aku ingin diperhatikan Shin. Maka dari itu aku selalu memaksa Rama untuk mengantar-jemput aku. Tapi, apa kamu tahu, sepanjang hari Rama selalu bercerita tentang kamu, entah itu di perjalanan, di kafe ataupun di mall. Aku bosan Shin, aku cemburu oleh sebab itu aku mengaku bahwa aku dan Rama itu sudah pacaran. Padahal itu semua tidak terjadi. Aku melakukan semua itu agar kamu merasakan apa yang aku rasakan Shin. Lalu, saat pesta ulang tahunmu aku pura-pura sakit agar Rama tidak bisa hadir dan menemaniku. Aku benar-benar bahagia saat itu karena aku bisa membuat hati kamu hancur. Maafkan aku Shin …” kata Mita sambil terisak.
            “Kamu benar-benar jahat Mit ! Kenapa kamu tega melakukan semua ini ? hatiku benar-benar sakit Mit mendengar semua ini, dan aku merasa sangat bersalah pada Rama !” Jawabku emosi.
            “Aku mohon Shin, maafkan aku. Aku juga merasa bersalah pada kalian berdua. Apalagi setelah aku menemukan buku harian Rama. Hatiku bertambah hancur saat membacanya.” Kata Mita lirih.
            Aku duduk tertunduk. Aku benar-benar tidak menyangka Mita tega melakukan semua ini. Aku sedih, marah, dan sangat bersalah pada Rama.
            “Aku minta sekarang juga, kamu pergi dari sini Mit !” bentakku keras pada Mita.
            “Baik … aku akan pergi, tapi aku mohon baca buku harian ini. Jam 9 Rama akan berangkat ke Surabaya dengan kereta pagi ini. Dan hanya kamu yang bisa mencegahnya.” Ucap Mita kemudian.
            Kurebahkan tubuhku di sofa. Saat ini aku benar-benar kalut. Ku raih buku harian itu, ku buka lembar per lembar. Aku terpaku pada sebuah tulisan yang berisi pengakuan hati Rama

Shinta …
Seorang peri kecil yang begitu mempesona …
Aku menyayanginya lebih dari sahabat biasa …
Aku tidak mengerti mengapa aku bisa jatuh hati padanya …
Tapi, dari ketidaktahuanku itulah yang memunculkan  perasaan ini …
Sebuah perasaan sayang yang amatlah dalam. Bahkan, aku tidak mampu untuk mengungkapkannya
Karena aku takut memilikinya …
Karena aku takut bila suatu saat nanti aku akan menyakitinya …
Aku janji akan terus menjaga kamu Shin, dan tidak akan menyakiti hati kamu karena jika aku melakukannya, sama halnya aku menghancurkan diriku sendiri.

            Tak terasa air mataku menetes. Tapi … ini adalah air mata kebahagiaan. Sungguh, aku benar-benar merasa bahagia karena Rama memiliki perasaan yang sama denganku. Kini ku buka lembar terakhir. Kali ini aku benar-benar terkejut. Suaraku tercekat. Lalu, aku segera berlari keluar menuju stasiun yang akan memberangkatkan kereta pagi ini. Aku tidak peduli meskipun rintik hujan mulai turun membasahiku. Di buku itu tertulis bahwa Rama akan menungguku di stasiun, jika aku tak datang, maka Rama akan pergi ke Surabaya untuk selamanya. Kata Mita, Rama akan berangkat jam 9 pagi. Sedangkan sekarang sudah pukul 8.30 WIB. Aku harus segera sampai dan mencegah Rama. Aku berlari secepat mungkin, sepanjang perjalanan tak kutemui taxi yang lewat. Sementara hujan mulai turun dengan lebatnya. Untunglah masih ada ojek yang tersisa. Aku segera memboncengnya dan menyebutkan alamat yang akan ku tuju. Sesampainya di stasiun, jam sudah menunjukkan pukul 9 tepat. Aku berlari dan menemukan Rama hendak masuk ke kereta, ku panggil namanya keras-keras. Rama menengok dan aku langsung menghambur ke pelukannya.
            “Shinta … kamu basah kuyup … nanti kalau kamu sakit bagaimana ?” kata Rama sambil membelai rambutku yang basah.
            “Tidak Ram … maafkan aku, aku sudah tahu semuanya. Aku mohon kamu jangan pergi.” Kataku sambil menangis.
            “Aku yakin, kamu pasti akan ke sini. Iya … aku juga minta maaf waktu itu aku tidak hadir di hari spesialmu. Aku benar-benar menyesal.” Kata Rama bersalah.
            “Iya Ram … aku sudah tahu semuanya. Ehm … aku kan sudah membaca ini.” Kataku sambil memperlihatkan buku harian Rama. Ramapun segera merebut buku itu dariku.
            “Jadi kamu sudah tahu …” kata Rama tidak meneruskan kata-katanya. Mukanya merah menahan malu.
            “Iya Ram … dan asal kamu tahu, aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu.” Kataku sambil menunduk.
            “Dasar curang …” kata Rama sambil mengacak – acak rambutku dengan gemas.
            Tiba-tiba Rama mengecup keningku dan memelukku. Meskipun seluruh tubuhku basah kuyup akibat kehujanan. Namun aku merasakan sebuah kehangatan yang tak pernah kurasakan selama ini. Aku percaya, bahwa segala sesuatu yang didasarkan oleh ketulusan, pasti akan berakhir dengan sejuta keindahan yang tidak mampu diukirkan oleh sebuah kata-kata. Bagiku, Rama adalah sepercik ketulusan yang mampu menghadirkan nuansa indah dalam hidupku.
            Kini, aku tak takut lagi menyebut getar itu sebagai cinta. Karena Rama telah meyakinkanku atas perasaan yang tak menentu ini. Dan sampai kapanpun, aku akan menjaga ketulusan cinta ini, agar tetap terjalin untuk selamanya.

0 komentar:

Poskan Komentar