Sabtu, 16 Mei 2015 | By: Zahra Abdullah

Janji Hujan (Cerita Bersambung eps 3)

Episode 3
           
            Kuhempaskan tubuhku keras-keras diatas kasur tempat tidurku. Kubiarkan kakiku yang panjang menjuntai kebawah hampir mengenai lantai keramik berukir bunga mawar disetiap sudutnya senada dengan seprai  lembut bebungaan berwarna biru muda dan bantal-bantal besar bermotif serupa. Aku menyukai bunga. Amat dan sangat. Bagiku bunga adalah simbol keindahan. Segundah apapun perasaanku, ketika menatap sekuntum bunga maka rasa hangat menjalar keseluruh tubuhku seketika. Menentramkan. Tak heran ruang petak berukuran 4x4m ini penuh dengan nuansa bunga. Mawar merah yang tersusun apik dalam vas bening di atas meja belajar di sudut ruangan, ornamen lampu hias berbentuk bunga, bahkan keset kakipun bermotif bunga namun yang paling mencolok diantara semua adalah lukisan besar bunga tulip berwarna-warni yang tergantung manis di dinding yang berhadapan langsung dengan tempat tidur. Sengaja kuletakan sedemikian rupa agar ketika aku membuka mata lukisan bunga itulah yang pertama kali kusapa.
Aku membuka-tutup mataku beberapa kali,mengerjap-kerjap. Aneh, sudah lewat pukul 11 malam tapi mataku tak kunjung lelah. Mungkinkah karena buncah rasa gembira bertemu dengannya? Lelaki misterius yang secara tiba-tiba hilang dan muncul dikehidupanku. Plakkk.. tiba-tiba aku refleks menepuk keningku keras-keras. Amiraaaa!!! kenapa bisa lupa lupa sih? Kenapa bisa lupa menanyakan namanya!!!! Entah terlalu senang atau nyaman pertemuan selama tiga jam itu (dengan terpaksa meninggalkan Kinan sendirian) membuatku lupa untuk mengutarakan hal penting yang seharusnya pertama kali kutanyakan:  NAMA. Arrrgggghhhhhh!
Masih teringat dengan jelas senyumnya yang menawan memperlihatkan deretan giginya putihnya yang tersusun rapi. Alisnya yang tebal. Hidungnya yang mancung. Serta matanya yang kecoklatan membuatnya begitu tampan. Tapi bagaimana mungkin aku bisa terbuai hingga lupa akan hal penting darinya?? Karena terlalu lelah merutuki diri sendiri, akupun jatuh terlelap. Semoga pagi menawarkan jawaban atas setiap harapan.
....................................................................................................................................................
            Mentari bersinar hangat, semburat cahaya kuning keemasan memancarkan berjuta pesona. Awan-awan putih berarak malu-malu. Burung-burung terbang bergerombol membentuk suatu formasi indah. Di kejauhan nampak ibu-ibu berseragam olahraga memadati jalan perumahan. Ketukan sepatu kets menapak aspal menimbulkan bunyi tap tap tap yang seirama. Ibu berbadan tinggi berambut hitam panjang yang dikuncir memimpin rombongan didepan sambil tak henti berucap
“Satu..dua..satu..duaa..ayo ibu-ibu yang kompak. Semangat yaa bu. Jangan lupa tangannya sambil di gerak-gerakkan.”
 Di belakangnya ibu-ibu yang lain berbaris memanjang ular seperti terhipnotis melakukan instruksi yang diberikan dengan patuh.
Aku tersenyum melihatnya dari atas balkon rumah. Seperti biasa, minggu pagi perumahan tempatku tinggal selalu ramai oleh aktivitas olahraga. Mulai dari lari pagi, jalan sehat, bersepeda hingga senam sudah menjadi ritual yang tak terlewatkan. Namun pagi ini aku akan menanggalkan ritual itu semua karena satu hal penting yang harus kulakukan. Mengejar.   
.....................................................................................................................................................
            Bus yang saat ini ku tumpangi tidak terlalu sesak. Aku memilih tempat duduk di dekat jendela agar dapat menikmati perjalanan. Jika kalian bertanya hal bodoh apa yang sedang kulakukan. Maka aku hanya bisa menjawab mengejar. Hey, tolong jangan selalu berasumsi bahwa mengejar itu hal yang memalukan. Apalagi dilakukan oleh wanita. Why not? Selama mengejar yang kita lakukan tidak melebihi batasan. Masih dalam taraf wajar. Tidak berlebihan. Bukankah lebih baik daripada hanya duduk diam dan menunggu? Oke kalian benar aku hanya mencari pembenaran. Come one, aku juga lelah berdebat dengan diriku sendiri. Setelah beribu kali kupertimbangkan dan beribu kali pula aku meyakinkan diriku sendiri atas apa yang akan kulakukan akhirnya disinilah aku berada. Di dalam bus berkapasitas 40 penumpang dan tentu saja tujuanku adalah menemuinya.
            Jarak antara kotaku dan tempat tinggalnya tidak terlalu jauh sekitar satu setengah jam menggunakan bus setelah itu turun di terminal berlanjut dengan ojek selama 15 menit. Aku masih hapal jalan di daerahnya karena kebetulan rumah nenekku berada disana. Sudah tentu aku beralasan mengunjungi rumah nenek agar diperbolehkan ibuku. Tapi tenang, aku memang akan menginap dirumah nenek untuk beberapa hari.
.....................................................................................................................................................
            “Suasana disini mengingatkanku pada desa tempat nenekku tinggal. Bilik kayu,
angklung, sawah hijau. Bahkan suara gemericik air disini hampir serupa dengan aliran sungai yang berkelok disana.” Aku menerawang sambil tersenyum.
            “Benarkah? Aku juga anak pedesaan. Kapan-kapan berkunjunglah kedesaku. Aku akan memamerkan sejuta pesona dari ujung hingga ujung yang tak pernah kau lupakan.” Ia menegerling sambil tangannya menggurat sesuatu pada kertas. Lalu menyerahkannya padaku.
            Aku membelalak kaget. “Ini alamat tinggal kamu?”
Ia tersenyum lagi seperti tahu apa yang ada dipikiranku. Benar, dia tinggal di desa yang sama dengan nenekku. Lalu kami menghabiskan waktu tiga jam di cafe untuk bertukar cerita. Mungkin lebih tepatnya aku yang berbicara banyak hal, sedang dia banyak tersenyum dan sesekali tertawa terbahak. Baru kali ini aku cepat akrab dengan orang asing, entahlah aku merasa sangat nyaman berada bersamanya seperti bersama dengan seseorang yang telah lama ku kenal. Hingga waktu bergulir begitu saja tanpa terasa. Kami berpisah di depan cafe. Masih melempar senyum hingga taksi yang kutumpangi menghilang di kelok jalan.
.....................................................................................................................................................
Bimmmmm...bimmmmm..bimm..
            Suara klakson bis membuyarkan lamunanku. Aku mengintip dari balik jendela mencoba mencari tahu muasal kegaduhan yang terjadi. Puluhan kambing berjejer membentuk barisan horisontal memanjang di depan laju bus. Diluar sana padang ilalang nan hijau terhampar sejauh mata memandang. Menandakan sudah semakin dekat dengan tempat pemberhentian bus terakhir. Aku tersenyum melihat kambing-kambing itu kebingungan karena sopir bus membunyikan klakson berulang kali dengan gemas. Beruntung bapak gembala segera muncul menggiring kambing-kambing itu untuk segera menepi. Aku segera bersiap, memasukkan buku yang sedari tadi digenggamanku kedalam tas. Akhirnya bus memasuki gerbang terminal, mengumumkan kepada penumpang untuk bersiap turun.
            Aku menuruni tangga bus dengan hati-hati, semilir angin pedesaan memainkan anak rambutku yang menjuntai di kening. Kuhirup udara dalam-dalam lalu kehempaskan perlahan.
Wahai tuan yang belum kuketahui namanya, aku sudah tiba.

 (Bersambung...)
.....................................................................................................................................................


Selasa, 21 April 2015 | By: Zahra Abdullah

Dear Dad,
By your little daughter

                
Untuk Ayah,
            Hujan merinai tenang perlahan, gemericik bunyi retasan menyentuh bibir genting seperti alunan nina-bobo yang dahulu kerap kudengarkan darimu, Ayah. Seperti biasa, aku ingin mengucapkan kata yang mungkin sudah bosan kau dengar, namun bagiku tak pernah pudar, Ayah aku merindukanmu.
             Ayah, tahukah kau hal yang paling membuatku cemburu di dunia? Bukan saat melihat sepasang kekasih yang begitu mesra, bukan pula tentang pengantin yang dimabuk asmara. Melainkan melihat sebuah keluarga utuh, dimana sang anak tengah didekap kedua orang tuanya. Mereka berangkulan, saling berbisik, melempar canda. Melihat tawa lepas sang anak, adalah maha karya sebuah keagungan cinta. Maka aku mohon jangan salahkan aku Ayah jika aku iri. Aku cemburu. Bahkan bibir ini bergetar. Sebab kita hanya bertemu malam-kala mataku terpejam. Sebab hanya bayangmu yang memeluku dalam ingauan panjang. Desah napas tertahan menelingkupku hingga bulir-bulir bening menderas pada kedua sudut mata. Aku tidak seberuntung mereka yang bisa merasakan kasih ayahnya lebih lama. 
           Teruntuk Ayahku, ada puluhan dongeng yang pernah kau ceritakan padaku dulu ketika mataku sulit terpejam. Aku masih mengingatnya dengan baik, Ayah. Kau kisahkan cerita kancil favoritku, berulang. Entahlah aku tidak pernah merasa bosan--meski sudah kuhapal, bahkan selalu kutunggu penuh debar kegembiraan. Aku menyukai caramu mendongeng,  tak ada yang melampaui keunikanmu. Bagiku kau adalah pendongeng terhebat sepanjang massa, Ayah. Hingga sekarang, tak pernah lagi kudengar perihal kancil yang terkena jebakan. 
              Ayah, aku mencoba untuk menjadi wanita tangguh. Seperti Ibu. Benar Ayah, tiada wanita yang lebih tegar dibanding seorang ibu yang merangkap menjadi sosok penggantimu. Aku ingin seperti ibu yang sanggup bertahan dalam duka. Jarang kulihat air mata menetas di pipinya. Dilipatnya segala tangis kesedihan itu dalam-dalam. Mungkin hanya ia hamburkan di sepertiga malam. Namun sungguh sulit kulakukan.
          Aku mencari sosokmu pada lelaki yang kutemui. Pada mulanya aku bahagia, namun perlahan kebahagiaan itu menguap dengan sendirinya. Aku sadar, belum ada lelaki yang bisa mencintaiku sebesar cintamu padaku, Ayah. Oleh karena itu, izinkan aku untuk tetap menyimpan namamu dalam lubuk hatiku, dalam doa-doaku, serta dalam angan dan ingatku. 

Putrimu,
yang mencintaimu tidak dengan sederhana.