Sabtu, 16 Mei 2015 | By: Zahra Abdullah

Janji Hujan (Cerita Bersambung eps 3)

Episode 3
           
            Kuhempaskan tubuhku keras-keras diatas kasur tempat tidurku. Kubiarkan kakiku yang panjang menjuntai kebawah hampir mengenai lantai keramik berukir bunga mawar disetiap sudutnya senada dengan seprai  lembut bebungaan berwarna biru muda dan bantal-bantal besar bermotif serupa. Aku menyukai bunga. Amat dan sangat. Bagiku bunga adalah simbol keindahan. Segundah apapun perasaanku, ketika menatap sekuntum bunga maka rasa hangat menjalar keseluruh tubuhku seketika. Menentramkan. Tak heran ruang petak berukuran 4x4m ini penuh dengan nuansa bunga. Mawar merah yang tersusun apik dalam vas bening di atas meja belajar di sudut ruangan, ornamen lampu hias berbentuk bunga, bahkan keset kakipun bermotif bunga namun yang paling mencolok diantara semua adalah lukisan besar bunga tulip berwarna-warni yang tergantung manis di dinding yang berhadapan langsung dengan tempat tidur. Sengaja kuletakan sedemikian rupa agar ketika aku membuka mata lukisan bunga itulah yang pertama kali kusapa.
Aku membuka-tutup mataku beberapa kali,mengerjap-kerjap. Aneh, sudah lewat pukul 11 malam tapi mataku tak kunjung lelah. Mungkinkah karena buncah rasa gembira bertemu dengannya? Lelaki misterius yang secara tiba-tiba hilang dan muncul dikehidupanku. Plakkk.. tiba-tiba aku refleks menepuk keningku keras-keras. Amiraaaa!!! kenapa bisa lupa lupa sih? Kenapa bisa lupa menanyakan namanya!!!! Entah terlalu senang atau nyaman pertemuan selama tiga jam itu (dengan terpaksa meninggalkan Kinan sendirian) membuatku lupa untuk mengutarakan hal penting yang seharusnya pertama kali kutanyakan:  NAMA. Arrrgggghhhhhh!
Masih teringat dengan jelas senyumnya yang menawan memperlihatkan deretan giginya putihnya yang tersusun rapi. Alisnya yang tebal. Hidungnya yang mancung. Serta matanya yang kecoklatan membuatnya begitu tampan. Tapi bagaimana mungkin aku bisa terbuai hingga lupa akan hal penting darinya?? Karena terlalu lelah merutuki diri sendiri, akupun jatuh terlelap. Semoga pagi menawarkan jawaban atas setiap harapan.
....................................................................................................................................................
            Mentari bersinar hangat, semburat cahaya kuning keemasan memancarkan berjuta pesona. Awan-awan putih berarak malu-malu. Burung-burung terbang bergerombol membentuk suatu formasi indah. Di kejauhan nampak ibu-ibu berseragam olahraga memadati jalan perumahan. Ketukan sepatu kets menapak aspal menimbulkan bunyi tap tap tap yang seirama. Ibu berbadan tinggi berambut hitam panjang yang dikuncir memimpin rombongan didepan sambil tak henti berucap
“Satu..dua..satu..duaa..ayo ibu-ibu yang kompak. Semangat yaa bu. Jangan lupa tangannya sambil di gerak-gerakkan.”
 Di belakangnya ibu-ibu yang lain berbaris memanjang ular seperti terhipnotis melakukan instruksi yang diberikan dengan patuh.
Aku tersenyum melihatnya dari atas balkon rumah. Seperti biasa, minggu pagi perumahan tempatku tinggal selalu ramai oleh aktivitas olahraga. Mulai dari lari pagi, jalan sehat, bersepeda hingga senam sudah menjadi ritual yang tak terlewatkan. Namun pagi ini aku akan menanggalkan ritual itu semua karena satu hal penting yang harus kulakukan. Mengejar.   
.....................................................................................................................................................
            Bus yang saat ini ku tumpangi tidak terlalu sesak. Aku memilih tempat duduk di dekat jendela agar dapat menikmati perjalanan. Jika kalian bertanya hal bodoh apa yang sedang kulakukan. Maka aku hanya bisa menjawab mengejar. Hey, tolong jangan selalu berasumsi bahwa mengejar itu hal yang memalukan. Apalagi dilakukan oleh wanita. Why not? Selama mengejar yang kita lakukan tidak melebihi batasan. Masih dalam taraf wajar. Tidak berlebihan. Bukankah lebih baik daripada hanya duduk diam dan menunggu? Oke kalian benar aku hanya mencari pembenaran. Come one, aku juga lelah berdebat dengan diriku sendiri. Setelah beribu kali kupertimbangkan dan beribu kali pula aku meyakinkan diriku sendiri atas apa yang akan kulakukan akhirnya disinilah aku berada. Di dalam bus berkapasitas 40 penumpang dan tentu saja tujuanku adalah menemuinya.
            Jarak antara kotaku dan tempat tinggalnya tidak terlalu jauh sekitar satu setengah jam menggunakan bus setelah itu turun di terminal berlanjut dengan ojek selama 15 menit. Aku masih hapal jalan di daerahnya karena kebetulan rumah nenekku berada disana. Sudah tentu aku beralasan mengunjungi rumah nenek agar diperbolehkan ibuku. Tapi tenang, aku memang akan menginap dirumah nenek untuk beberapa hari.
.....................................................................................................................................................
            “Suasana disini mengingatkanku pada desa tempat nenekku tinggal. Bilik kayu,
angklung, sawah hijau. Bahkan suara gemericik air disini hampir serupa dengan aliran sungai yang berkelok disana.” Aku menerawang sambil tersenyum.
            “Benarkah? Aku juga anak pedesaan. Kapan-kapan berkunjunglah kedesaku. Aku akan memamerkan sejuta pesona dari ujung hingga ujung yang tak pernah kau lupakan.” Ia menegerling sambil tangannya menggurat sesuatu pada kertas. Lalu menyerahkannya padaku.
            Aku membelalak kaget. “Ini alamat tinggal kamu?”
Ia tersenyum lagi seperti tahu apa yang ada dipikiranku. Benar, dia tinggal di desa yang sama dengan nenekku. Lalu kami menghabiskan waktu tiga jam di cafe untuk bertukar cerita. Mungkin lebih tepatnya aku yang berbicara banyak hal, sedang dia banyak tersenyum dan sesekali tertawa terbahak. Baru kali ini aku cepat akrab dengan orang asing, entahlah aku merasa sangat nyaman berada bersamanya seperti bersama dengan seseorang yang telah lama ku kenal. Hingga waktu bergulir begitu saja tanpa terasa. Kami berpisah di depan cafe. Masih melempar senyum hingga taksi yang kutumpangi menghilang di kelok jalan.
.....................................................................................................................................................
Bimmmmm...bimmmmm..bimm..
            Suara klakson bis membuyarkan lamunanku. Aku mengintip dari balik jendela mencoba mencari tahu muasal kegaduhan yang terjadi. Puluhan kambing berjejer membentuk barisan horisontal memanjang di depan laju bus. Diluar sana padang ilalang nan hijau terhampar sejauh mata memandang. Menandakan sudah semakin dekat dengan tempat pemberhentian bus terakhir. Aku tersenyum melihat kambing-kambing itu kebingungan karena sopir bus membunyikan klakson berulang kali dengan gemas. Beruntung bapak gembala segera muncul menggiring kambing-kambing itu untuk segera menepi. Aku segera bersiap, memasukkan buku yang sedari tadi digenggamanku kedalam tas. Akhirnya bus memasuki gerbang terminal, mengumumkan kepada penumpang untuk bersiap turun.
            Aku menuruni tangga bus dengan hati-hati, semilir angin pedesaan memainkan anak rambutku yang menjuntai di kening. Kuhirup udara dalam-dalam lalu kehempaskan perlahan.
Wahai tuan yang belum kuketahui namanya, aku sudah tiba.

 (Bersambung...)
.....................................................................................................................................................


Selasa, 21 April 2015 | By: Zahra Abdullah

Dear Dad,
By your little daughter

                
Untuk Ayah,
            Hujan merinai tenang perlahan, gemericik bunyi retasan menyentuh bibir genting seperti alunan nina-bobo yang dahulu kerap kudengarkan darimu, Ayah. Seperti biasa, aku ingin mengucapkan kata yang mungkin sudah bosan kau dengar, namun bagiku tak pernah pudar, Ayah aku merindukanmu.
             Ayah, tahukah kau hal yang paling membuatku cemburu di dunia? Bukan saat melihat sepasang kekasih yang begitu mesra, bukan pula tentang pengantin yang dimabuk asmara. Melainkan melihat sebuah keluarga utuh, dimana sang anak tengah didekap kedua orang tuanya. Mereka berangkulan, saling berbisik, melempar canda. Melihat tawa lepas sang anak, adalah maha karya sebuah keagungan cinta. Maka aku mohon jangan salahkan aku Ayah jika aku iri. Aku cemburu. Bahkan bibir ini bergetar. Sebab kita hanya bertemu malam-kala mataku terpejam. Sebab hanya bayangmu yang memeluku dalam ingauan panjang. Desah napas tertahan menelingkupku hingga bulir-bulir bening menderas pada kedua sudut mata. Aku tidak seberuntung mereka yang bisa merasakan kasih ayahnya lebih lama. 
           Teruntuk Ayahku, ada puluhan dongeng yang pernah kau ceritakan padaku dulu ketika mataku sulit terpejam. Aku masih mengingatnya dengan baik, Ayah. Kau kisahkan cerita kancil favoritku, berulang. Entahlah aku tidak pernah merasa bosan--meski sudah kuhapal, bahkan selalu kutunggu penuh debar kegembiraan. Aku menyukai caramu mendongeng,  tak ada yang melampaui keunikanmu. Bagiku kau adalah pendongeng terhebat sepanjang massa, Ayah. Hingga sekarang, tak pernah lagi kudengar perihal kancil yang terkena jebakan. 
              Ayah, aku mencoba untuk menjadi wanita tangguh. Seperti Ibu. Benar Ayah, tiada wanita yang lebih tegar dibanding seorang ibu yang merangkap menjadi sosok penggantimu. Aku ingin seperti ibu yang sanggup bertahan dalam duka. Jarang kulihat air mata menetas di pipinya. Dilipatnya segala tangis kesedihan itu dalam-dalam. Mungkin hanya ia hamburkan di sepertiga malam. Namun sungguh sulit kulakukan.
          Aku mencari sosokmu pada lelaki yang kutemui. Pada mulanya aku bahagia, namun perlahan kebahagiaan itu menguap dengan sendirinya. Aku sadar, belum ada lelaki yang bisa mencintaiku sebesar cintamu padaku, Ayah. Oleh karena itu, izinkan aku untuk tetap menyimpan namamu dalam lubuk hatiku, dalam doa-doaku, serta dalam angan dan ingatku. 

Putrimu,
yang mencintaimu tidak dengan sederhana.
Senin, 20 Oktober 2014 | By: Zahra Abdullah

JANJI HUJAN
(cerita bersambung eps. 2)
Ada dua waktu yang selalu kutunggu.
Purnama, dimana bulan membulat sempurna saat pancaran sinarnya begitu terang membuat malam tak lagi kelam. Serta... hujan, dimana kali pertama kita dipertemukan hingga keindahan purnama seakan tergantikan.
            Aku sempurna terkejut ketika seorang pelayan lelaki berbadan tambun  memberiku secarik kertas berisikan sajak tersebut. Aku mengedarkan pandangan disekelilingku. Rumah makan bergaya etnic tempatku berada memang selalu ramai pengunjung terutama di malam hari. Bilik-bilik kayu sebagai tempat menyantap hidangan dengan penyekat bambu-bambu kecil menyuguhkan suasana tradisional serta alunan musik angklung yang begitu merdu menjadi pelengkap daya pikat rumah makan ini, sebuah nuansa yang mengingatkanku pada desa kelahiran ibuku. Namun sejauh mata memandang aku tak menemukan seseorang yang kucari.
“Amira, kamu lagi nyari apa?” suara Kinan membuyarkan konsentrasiku.
“Orang yang ngirim kertas ini.” Sahutku sambil terus mengedarkan pandangan.
“Duh Miraaa...kenapa gak tanya sama mas yang tadi ngasih aja sih?”
God! What a stupid I am! Kinan benar, kenapa gak tanya langsung sama pelayan yang tadi sih? Amiraa..where’s your mind?? Dengan langkah seribu aku segera mencari pelayan itu. Yes, akhirnya ketemu.Bukan perkara sulit untuk mencarinya, karena tubuhnya yang relatif besar membuatnya mudah ditemukan meskipun berada ditengah kerumunan.
“Mas, saya mau tanya siapa yang mengirimkan kertas ini?” aku mengulurkan kertas yang sedari tadi tak lepas dari genggamanku.
“Oh..itu tadi dari seorang pria di meja nomor 75. Di lantai atas.” Jawabnya cepat karena menahan beban makanan diatas nampan yang tengah dibawanya.
“Okey..makasih mas.” Tanpa menunggu aba-aba aku segera menuju ke lantai atas. Dari atas terlihat jelas pemandangan dibawah. Meskipun aku sering ke rumah makan ini, namun baru kali ini aku menginjakkan kakiku dilantai atas. Jika di lantai bawah menyuguhkan alunan musik angklung serta ornamen-ornamen tradisional lainnya, di lantai atas agak sedikit berbeda yaitu dengan gaya semi modern meskipun tetap menggunakan rumah-rumah panggung  terbuat dari kayu yang didesain lebih modern. Ruangan yang sangat luas dengan atap langit yang menawan. Ditengah-tengah ruangan terdapat kolam air mancur yang dihias dengan lampu kerlap-kerlip disetiap sudutnya membuat pancaran seribu cahaya. Pada setiap rumah panggung terdapat lukisan penuh warna dan diatasnya tergantung lampu-lampu kristal berukuran sedang. Suara gemericik air dan alunan musik jazz menambah kesan romantis dimana kita juga bisa melihat kerlip bintang di langit bebas. Aku tertegun. Ternyata begitu banyak keindahan yang telah kulewatkan.
            Plaakkk..Tanganku refleks menepuk jidat. Amiraaaaaa....kenapa malah melamun, ingat pria nomor 75!! Akupun tergesa mencari meja nomor 75. Setelah mengitari seluruh ruangan akhirnya aku mendapati meja yang terletak disudut ruangan. Dan demi apapun, ingin rasanya teriak sekencang-kencangnya karena meja tersebut KOSONG. Aaarrrgghhh...Aku mendengus sebal mencoba meredam amarah dengan menarik dapas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Percaya atau tidak cara itu bisa mengurangi emosi meskipun hanya satu koma sekian persen. Well, tapi patut dicoba kan?
 Belum reda rasa kesalku tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku dari belakang. Karena masih terbawa emosi akupun berbalik sambil memasang kuda-kuda dan mengepalkan kedua tanganku.
“Weitssss...santai aku bukan penjahat kok. Peace. Hehehe.” Seorang pria berbadan tinggi kekar tengah berada di depanku meringis memamerkan jajaran giginya yang putih sambil mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
“eh...ehmmm sorry.” Aku menundukkan kepalaku, salah tingkah karena melakukan hal bodoh. Akupun mulai menggaruk-garuk rambutku yang tidak terasa gatal sambil terus merutuki diriku sendiri dalam hati. Pria di depanku tertawa renyah. Akupun mendongakan kepalaku berusaha menatapnya. Mataku terbelalak. Tuhan, ini bukan mimpi kan?!
“Ini bukan mimpi.” Pria itu tersenyum simpul seperti bisa membaca pikiranku.
“Ka..Kamu bisa....” Lidahku tercekat.
“Membaca pikiran..tentu saja bisa.” Jawabnya cepat.
“Really?????” Jeritku tanpa kontrol.
Pria di depanku terkekeh. Aku hanya bisa mengernyitkan dahi sambil memandangnya dengan takut. Karena melihat eksprsiku akhirnya dia berusaha menghentikan tawanya.
“Ehm..sorry aku kelepasan. Jadi kamu pikir aku benar-benar bisa membaca pikiran orang?”
Aku hanya mengangguk-ngangguk sambil menatapnya serius.
“Kamu tahu, hal itu hanya ada di film ataupun cerita-cerita fiksi lainnya. Tentu saja tidak, aku hanya asal menebak. Dan tebakanku ternyata benar.” Ia tersenyum kepadaku.
Dan lagi-lagi aku melakukan hal-hal bodoh di depan orang yang baru ku kenal. What a shame!!
“Apa kau masih mengenaliku?” ucapnya tiba-tiba.
“Ehm..tentu saja. Pria di dalam gerbong kereta.” Aku tersenyum malu-malu.
“Syukurlah.” Lagi-lagi ia memasang senyum manis di wajahnya.
“Apa kau yang memberikan ini?” aku memperlihatkan secarik kertas yang sudah sedikit teremas.
Ia mengangguk sambil tersenyum lebar. “Bukankah takdir yang menyenangkan?” lanjutnya.
 Mata kami saling beradu. Aku terkejut ketika bulir-bulir lembut menerpa wajahku. Secara bersamaan kami mendongakkan kepala menatap langit. Benar saja gerimis terjuntai secara perlahan membaur bersama tanah yang merekah. Kami saling melepar tawa membiarkan hujan membasuh tubuh kita di pertemuan yang kedua.
Maka tak ada yang lebih indah selain menjadi saksi dari janji hujan yang tak pernah ingkar membasuh kerontang.

(Bersambung...)
  .................................................................................................................................................

Sabtu, 18 Oktober 2014 | By: Zahra Abdullah
Cerbung: JANJI HUJAN
(cerita bersambug eps 1)
            Malam ini aku merindukanmu. Entah kau merasakan hal yang serupa ataupun sebaliknya. Aku tak akan menyalahkanmu jika pada akhirnya kau membenciku. Aku mungkin memang pantas kau benci atau bahkan kau caci sekalipun atas  keputusan yang telah kupilih. Tapi ku harap aku tak berdosa karena mengingatmu kembali.
......................................................................................................................................................
           Gelegar petir bersahutan, rintik yang sedari tadi menggelitik perlahan mulai menderas. Kutengadahkan tanganku keatas. Alisku berkerut sambil menatap jalan yang mulai lengang. Aku mulai mengedarkan pandangan gelisah. Aku menyukai hujan tapi tidak untuk malam ini.
          “Oh come on! Kenapa harus bocor saat seperti ini sih!” Aku mendengus kesal sambil menekan nekan ban sepeda motorku yang kempis.
           Bulir-bulir bening itu mulai menjuntai membasah sekujur tubuhku. Akupun menepikan motorku disebuah bilik kayu untuk tempat berteduh. Aku menepuk-nepuk bajuku berharap rasa dingin yang mulai menyergap ikut berjatuhan bersama tetesan air ke tanah. Kuambil ponsel yang sedari tadi menyelip disaku celana jeans yang kini berubah warna lebih pekat akibat guyuran hujan, mencoba mencari kontak seseorang yang selalu bisa kuandalkan. Namun belum sempat aku menekan menu call tiba-tiba ponselku berdering mengalunkan irama musik salah satu penyanyi favoritku David Archuleta “to be with you” lagu spesial untuk kekasihku. Senyumku mulai mengembang, sesegera mungkin kuangkat.
          “Hallo..” suara hangat yang selalu kurindukan menyapaku.
         “Panjang umur deh, baru aja mau aku telfon.” Sahutku.
          “Kamu belum sampai rumah? Suara hujannya jelas banget. Sudah malam kan, lagi dimana sekarang?” seperti biasa, rentetan pertanyaan terucap ketika Ia tengah khawatir.
          “Ban motorku bocor, sejauh ini belum ketemu bengkel. Jalanan juga sepi. Aku disekitar Jalan Diponegoro, dekat rumah Kinan.”
          “Yaudah kamu tunggu disitu, sekarang juga aku kesana.” Ujarnya sambil menutup pembicaraan secara singkat.
          Aku menatap langit-langit malam yang begitu pekat. Dulu aku selalu takut ketika mendengar suara petir yang begitu kencang. Aku mengumpat ketika langit mulai meneteskan ribuan kubik air melalui rongga-rongganya. Sampai pada suatu hari kita dipertemukan di kursi tunggu sebuah stasiun dibawah guyuran hujan. Ketika mata kita tak sengaja saling beradu. Dan sedikit senyum malu-malu. Masih teringat jelas saat kereta yang kita tunggu terbuka lebar. Aku menunggu Ibu yang keluar dari salah satu pintu, sedangkan kau berjalan pelan masuk kedalam melaui pintu yang sama. Kita masih saling melempar pandang. Hingga bunyi mesin kereta mulai bergemuruh bersamaan dengan menutupnya pintu kereta dan kau masih berdiri mematung menatapku. Lalu mulutmu terbuka hendak menggumamkan kata, namun roda-roda besi itu mulai melesat meninggalkan tempat pemberhentiannya. Pertemuan yang begitu singkat. Hanya saling melempar pandang. Tapi entah kenapa hatiku berdegup lebih kencang dari biasanya dan membuatku merindukan hujan untuk pertama kalinya.   
................................................................................................................................
          “Berhenti melakukan itu.” tangannya yang kekar menggenggam jemariku yang sedari tadi menjamah rinai hujan yang masih lebat.
        “Kau tahu, ini sangat menyenangkan.” Aku tersenyum sambil melepaskan genggaman tangannya dan kembali menengadahkan jemariku untuk bersentuhan dengan derai hujan.
        “Kau juga harus tahu kalau tanganmu bisa membeku kedinginan jika terus seperti itu.” kali ini dia menggenggam kedua tanganku kencang mencoba memberi kehangatan.
         “Terima kasih.” Ucapku setengah berbisik.
         “Untuk apa?”
         “Membuatku menyukai hujan.”
          “Kalau begitu aku juga harus berterima kasih pada hujan.” Genggamannya semakin erat.
          “Untuk apa?” kataku mengulang pertanyaannya.
          “Karena membuatku mencintaimu.”
           Pipiku merona, kutatap matanya yang lebar, ada binar kebahagiaan yang begitu tulus. Senyumnya selalu tersungging kala menatapku. Dan aku begitu luluh berada disampingnya.
       “Ehem..maaf mas ini motornya sudah jadi.” Suara berat seorang lelaki paruh baya mengagetkan kami. Sontak kami menjadi salah tingkah dan melepaskan genggaman tangan yang sedari tadi tengah erat.
     “eh oh..i iyaa pak, makasih. Berapa ini jadinya pak?” katanya tergagap lucu. Aku hanya terkikik melihat tingkahnya.
            Setelah selesai, kami memutuskan untuk pulang meskipun harus menerjang guyuran hujan karena sudah terlalu malam. Ia mengiringiku dari samping dengan motornya. Ia terkekeh menatapku seperti anak kecil yang suka memainkan air hujan dengan jemariku sambil sesekali meleparkan air kearahnya. Malam yang begitu dingin terasa hangat oleh tawa lepas kita berdua. Tak ada yang pernah tahu jika semua itu akan menjadi kenangan yang kelak begitu kurindu.


(Bersambung.....)
Sabtu, 13 Juli 2013 | By: Zahra Abdullah

puisi / perindu hujan


kala langit menggemuruh
duduk diam
lekat tatap
tengadah tangan
meraba hujan

titik menitik
sorak sorai gempita dalam dada
hujan merebak
rejeki langit menyapa
tangan-tangan Tuhan berkelana

Ia dan hujan
adalah cinta
menyemat asa
pada payung kecilnya

-anna berkarya
Minggu, 23 Juni 2013 | By: Zahra Abdullah

tentang daun yang menguning / fiksi mini / save environment


jika aku adalah daun, aku adalah daun yang melekat pada tangkai-tangkai rapuh pohon filicium tua. aku salah satu dari berjuta daun yang merumpun, membentuk sedemikian rupa hingga kau pun tak kan mampu mengenaliku dalam satu kejap mata. tapi jika kau jeli melihatku kau pasti bisa membedakanku dari jutaan daun daun yang mengerubuti filicium tua ini. apa kau menyadarinya? baiklah akan ku perjelas, tapi sebelumnya aku ingin bercerita sebentar. kala itu ketika mentari menyapa dengan teriknya aku melihatmu berjalan penuh peluh, lalu kutiupkan sedikit semilir angin melalui pori poriku yang hijau kau pun terbuai dan merapatkan tubuhmu pada filicium-ku. meneduh dari sengatan sang surya yang mulai membakar wajahmu. ingatkah kau kala itu menatapku lekat dan melekukkan senyuman? senyuman yang begitu memesona hingga kuhujani kau dengan beribu oksigen membuatmu menghela napas panjang-panjang. ah kala itu kau benar-benar betah berlama-lama denganku hingga kau tertidur pulas dibawah filicium-ku. ke esokan harinya aku selalu menantimu dengan harapan dapat selalu kulihat peluhmu dan kutiupkan hembusan asmara padamu. ternyata kau tipikal lelaki setia, kau hanya meneduh padaku meskipun kau jumpai ratusan filicium dalam perjalananmu. sampai pada suatu hari sudah sebulan aku tak melihatmu dan peluh-peluh manismu aku mengadu pada merpati, gelatik, parkit, jalak bahkan ungkut-ungkut tapi tak satupun dari mereka yang pernah menjumpaimu. aku jadi berpikir akankah kau temukan peneduh baru?
aku pun selalu gelisah pada siang malam berikutnya. setiap ku dengar derap langkah aku selalu berharap itu kau, dan sesering itulah aku kecewa. perlahan, tubuhku berubah tak sehijau dulu. apakah aku terkena syndrome gila yang disebut cinta? ah aku tak tahu pasti. penantianku berlanjut hingga purnama ke dua puluh tapi tak kunjung kujumpa dirimu. sampai suatu senja kala mentari kembali ke peraduannya, aku melihatmu di kejauhan! tapi bukan dengan peluh-peluhmu melainkan dengan raksasa bertubuh besi yang bergemuruh. aku benar-benar takut! kau terlihat seperti kesetanan. kau membabat habis kawanku hingga bunyi berdebum yang mengerikan. jarakmu tak lagi jauh denganku. aku semakin cemas. aku mohon berhentilah, tapi kau tetap teguh melaju roda-roda besi itu mendekat, kau mencoba menumbangkan filicium-ku. tapi kau salah, kami berjuang untuk tegak berdiri. perlahan kau turun dan bersama kolonimu mengeluarkan suatu alat yang menyerupai pisau raksasa dan bergerigi tajam. tak terperi kau hujani kami dengan sayatan keji dan dalam hitungan detik kami tumbang dihadapanmu. perlahan kau mendekatiku menatapku lekat seperti pertama kali berjumpa dulu dan sepertinya kau mengingatku, ya akulah sehelai daun yang memiliki corak hitam bekas tintamu yang kau usapkan padaku kala itu. akulah sehelai daun yang menanti peluhmu. tapi kini pada purnama ke dua puluh satu aku menguning dan hilang dalam hembus angin.
~anna berkarya
Rabu, 07 November 2012 | By: Zahra Abdullah

KETIKA SENJA


ketika senja datang
kemanakah engkau??
menghilang bersama mentari yang terus memudar
tak berbekas
hingga gelap


ketika senja datang
dimanakah engkau berada??
mungkinkh disemak belukar?
dipadang ilalang?
atau entah dimana letak yanag tak terjangkau akalku


ketika senja meredup
kemanakah angin bertiup?
mungkinkah bersamamu?
entah...
aku tak dapat merasakanmu
apakah kau menghilang?
atau hanya aku yang tak perlukan?
bimbang dan gamang


ketika senja tenggelam
mampukah kau temukan
diriku yang termangu
menunggu
dan tetap menunggu
meskipun jengah
meskipun lelah


ketika senja temaram
aku masih belum temuka
siluet wajahmu
pada yang lain
meskipun jarang kita bersua
namun hatiku masih
dan tetap
ada padamu
pada dirimu
ketika senja merenung
jangan kau hiraukan
karena ketika senja
jiwaku dalam hatimu



-anna berkarya