Selasa, 21 April 2015 | By: Zahra Abdullah

Dear Dad,
By your little daughter

                
Untuk Ayah,
            Hujan merinai tenang perlahan, gemericik bunyi retasan menyentuh bibir genting seperti alunan nina-bobo yang dahulu kerap kudengarkan darimu, Ayah. Seperti biasa, aku ingin mengucapkan kata yang mungkin sudah bosan kau dengar, namun bagiku tak pernah pudar, Ayah aku merindukanmu.
             Ayah, tahukah kau hal yang paling membuatku cemburu di dunia? Bukan saat melihat sepasang kekasih yang begitu mesra, bukan pula tentang pengantin yang dimabuk asmara. Melainkan melihat sebuah keluarga utuh, dimana sang anak tengah didekap kedua orang tuanya. Mereka berangkulan, saling berbisik, melempar canda. Melihat tawa lepas sang anak, adalah maha karya sebuah keagungan cinta. Maka aku mohon jangan salahkan aku Ayah jika aku iri. Aku cemburu. Bahkan bibir ini bergetar. Sebab kita hanya bertemu malam-kala mataku terpejam. Sebab hanya bayangmu yang memeluku dalam ingauan panjang. Desah napas tertahan menelingkupku hingga bulir-bulir bening menderas pada kedua sudut mata. Aku tidak seberuntung mereka yang bisa merasakan kasih ayahnya lebih lama. 
           Teruntuk Ayahku, ada puluhan dongeng yang pernah kau ceritakan padaku dulu ketika mataku sulit terpejam. Aku masih mengingatnya dengan baik, Ayah. Kau kisahkan cerita kancil favoritku, berulang. Entahlah aku tidak pernah merasa bosan--meski sudah kuhapal, bahkan selalu kutunggu penuh debar kegembiraan. Aku menyukai caramu mendongeng,  tak ada yang melampaui keunikanmu. Bagiku kau adalah pendongeng terhebat sepanjang massa, Ayah. Hingga sekarang, tak pernah lagi kudengar perihal kancil yang terkena jebakan. 
              Ayah, aku mencoba untuk menjadi wanita tangguh. Seperti Ibu. Benar Ayah, tiada wanita yang lebih tegar dibanding seorang ibu yang merangkap menjadi sosok penggantimu. Aku ingin seperti ibu yang sanggup bertahan dalam duka. Jarang kulihat air mata menetas di pipinya. Dilipatnya segala tangis kesedihan itu dalam-dalam. Mungkin hanya ia hamburkan di sepertiga malam. Namun sungguh sulit kulakukan.
          Aku mencari sosokmu pada lelaki yang kutemui. Pada mulanya aku bahagia, namun perlahan kebahagiaan itu menguap dengan sendirinya. Aku sadar, belum ada lelaki yang bisa mencintaiku sebesar cintamu padaku, Ayah. Oleh karena itu, izinkan aku untuk tetap menyimpan namamu dalam lubuk hatiku, dalam doa-doaku, serta dalam angan dan ingatku. 

Putrimu,
yang mencintaimu tidak dengan sederhana.

0 komentar:

Poskan Komentar