Minggu, 23 Juni 2013 | By: Zahra Abdullah

tentang daun yang menguning / fiksi mini / save environment


jika aku adalah daun, aku adalah daun yang melekat pada tangkai-tangkai rapuh pohon filicium tua. aku salah satu dari berjuta daun yang merumpun, membentuk sedemikian rupa hingga kau pun tak kan mampu mengenaliku dalam satu kejap mata. tapi jika kau jeli melihatku kau pasti bisa membedakanku dari jutaan daun daun yang mengerubuti filicium tua ini. apa kau menyadarinya? baiklah akan ku perjelas, tapi sebelumnya aku ingin bercerita sebentar. kala itu ketika mentari menyapa dengan teriknya aku melihatmu berjalan penuh peluh, lalu kutiupkan sedikit semilir angin melalui pori poriku yang hijau kau pun terbuai dan merapatkan tubuhmu pada filicium-ku. meneduh dari sengatan sang surya yang mulai membakar wajahmu. ingatkah kau kala itu menatapku lekat dan melekukkan senyuman? senyuman yang begitu memesona hingga kuhujani kau dengan beribu oksigen membuatmu menghela napas panjang-panjang. ah kala itu kau benar-benar betah berlama-lama denganku hingga kau tertidur pulas dibawah filicium-ku. ke esokan harinya aku selalu menantimu dengan harapan dapat selalu kulihat peluhmu dan kutiupkan hembusan asmara padamu. ternyata kau tipikal lelaki setia, kau hanya meneduh padaku meskipun kau jumpai ratusan filicium dalam perjalananmu. sampai pada suatu hari sudah sebulan aku tak melihatmu dan peluh-peluh manismu aku mengadu pada merpati, gelatik, parkit, jalak bahkan ungkut-ungkut tapi tak satupun dari mereka yang pernah menjumpaimu. aku jadi berpikir akankah kau temukan peneduh baru?
aku pun selalu gelisah pada siang malam berikutnya. setiap ku dengar derap langkah aku selalu berharap itu kau, dan sesering itulah aku kecewa. perlahan, tubuhku berubah tak sehijau dulu. apakah aku terkena syndrome gila yang disebut cinta? ah aku tak tahu pasti. penantianku berlanjut hingga purnama ke dua puluh tapi tak kunjung kujumpa dirimu. sampai suatu senja kala mentari kembali ke peraduannya, aku melihatmu di kejauhan! tapi bukan dengan peluh-peluhmu melainkan dengan raksasa bertubuh besi yang bergemuruh. aku benar-benar takut! kau terlihat seperti kesetanan. kau membabat habis kawanku hingga bunyi berdebum yang mengerikan. jarakmu tak lagi jauh denganku. aku semakin cemas. aku mohon berhentilah, tapi kau tetap teguh melaju roda-roda besi itu mendekat, kau mencoba menumbangkan filicium-ku. tapi kau salah, kami berjuang untuk tegak berdiri. perlahan kau turun dan bersama kolonimu mengeluarkan suatu alat yang menyerupai pisau raksasa dan bergerigi tajam. tak terperi kau hujani kami dengan sayatan keji dan dalam hitungan detik kami tumbang dihadapanmu. perlahan kau mendekatiku menatapku lekat seperti pertama kali berjumpa dulu dan sepertinya kau mengingatku, ya akulah sehelai daun yang memiliki corak hitam bekas tintamu yang kau usapkan padaku kala itu. akulah sehelai daun yang menanti peluhmu. tapi kini pada purnama ke dua puluh satu aku menguning dan hilang dalam hembus angin.
~anna berkarya

0 komentar:

Poskan Komentar