Sabtu, 18 Oktober 2014 | By: Zahra Abdullah
Cerbung: JANJI HUJAN
(cerita bersambug eps 1)
            Malam ini aku merindukanmu. Entah kau merasakan hal yang serupa ataupun sebaliknya. Aku tak akan menyalahkanmu jika pada akhirnya kau membenciku. Aku mungkin memang pantas kau benci atau bahkan kau caci sekalipun atas  keputusan yang telah kupilih. Tapi ku harap aku tak berdosa karena mengingatmu kembali.
......................................................................................................................................................
           Gelegar petir bersahutan, rintik yang sedari tadi menggelitik perlahan mulai menderas. Kutengadahkan tanganku keatas. Alisku berkerut sambil menatap jalan yang mulai lengang. Aku mulai mengedarkan pandangan gelisah. Aku menyukai hujan tapi tidak untuk malam ini.
          “Oh come on! Kenapa harus bocor saat seperti ini sih!” Aku mendengus kesal sambil menekan nekan ban sepeda motorku yang kempis.
           Bulir-bulir bening itu mulai menjuntai membasah sekujur tubuhku. Akupun menepikan motorku disebuah bilik kayu untuk tempat berteduh. Aku menepuk-nepuk bajuku berharap rasa dingin yang mulai menyergap ikut berjatuhan bersama tetesan air ke tanah. Kuambil ponsel yang sedari tadi menyelip disaku celana jeans yang kini berubah warna lebih pekat akibat guyuran hujan, mencoba mencari kontak seseorang yang selalu bisa kuandalkan. Namun belum sempat aku menekan menu call tiba-tiba ponselku berdering mengalunkan irama musik salah satu penyanyi favoritku David Archuleta “to be with you” lagu spesial untuk kekasihku. Senyumku mulai mengembang, sesegera mungkin kuangkat.
          “Hallo..” suara hangat yang selalu kurindukan menyapaku.
         “Panjang umur deh, baru aja mau aku telfon.” Sahutku.
          “Kamu belum sampai rumah? Suara hujannya jelas banget. Sudah malam kan, lagi dimana sekarang?” seperti biasa, rentetan pertanyaan terucap ketika Ia tengah khawatir.
          “Ban motorku bocor, sejauh ini belum ketemu bengkel. Jalanan juga sepi. Aku disekitar Jalan Diponegoro, dekat rumah Kinan.”
          “Yaudah kamu tunggu disitu, sekarang juga aku kesana.” Ujarnya sambil menutup pembicaraan secara singkat.
          Aku menatap langit-langit malam yang begitu pekat. Dulu aku selalu takut ketika mendengar suara petir yang begitu kencang. Aku mengumpat ketika langit mulai meneteskan ribuan kubik air melalui rongga-rongganya. Sampai pada suatu hari kita dipertemukan di kursi tunggu sebuah stasiun dibawah guyuran hujan. Ketika mata kita tak sengaja saling beradu. Dan sedikit senyum malu-malu. Masih teringat jelas saat kereta yang kita tunggu terbuka lebar. Aku menunggu Ibu yang keluar dari salah satu pintu, sedangkan kau berjalan pelan masuk kedalam melaui pintu yang sama. Kita masih saling melempar pandang. Hingga bunyi mesin kereta mulai bergemuruh bersamaan dengan menutupnya pintu kereta dan kau masih berdiri mematung menatapku. Lalu mulutmu terbuka hendak menggumamkan kata, namun roda-roda besi itu mulai melesat meninggalkan tempat pemberhentiannya. Pertemuan yang begitu singkat. Hanya saling melempar pandang. Tapi entah kenapa hatiku berdegup lebih kencang dari biasanya dan membuatku merindukan hujan untuk pertama kalinya.   
................................................................................................................................
          “Berhenti melakukan itu.” tangannya yang kekar menggenggam jemariku yang sedari tadi menjamah rinai hujan yang masih lebat.
        “Kau tahu, ini sangat menyenangkan.” Aku tersenyum sambil melepaskan genggaman tangannya dan kembali menengadahkan jemariku untuk bersentuhan dengan derai hujan.
        “Kau juga harus tahu kalau tanganmu bisa membeku kedinginan jika terus seperti itu.” kali ini dia menggenggam kedua tanganku kencang mencoba memberi kehangatan.
         “Terima kasih.” Ucapku setengah berbisik.
         “Untuk apa?”
         “Membuatku menyukai hujan.”
          “Kalau begitu aku juga harus berterima kasih pada hujan.” Genggamannya semakin erat.
          “Untuk apa?” kataku mengulang pertanyaannya.
          “Karena membuatku mencintaimu.”
           Pipiku merona, kutatap matanya yang lebar, ada binar kebahagiaan yang begitu tulus. Senyumnya selalu tersungging kala menatapku. Dan aku begitu luluh berada disampingnya.
       “Ehem..maaf mas ini motornya sudah jadi.” Suara berat seorang lelaki paruh baya mengagetkan kami. Sontak kami menjadi salah tingkah dan melepaskan genggaman tangan yang sedari tadi tengah erat.
     “eh oh..i iyaa pak, makasih. Berapa ini jadinya pak?” katanya tergagap lucu. Aku hanya terkikik melihat tingkahnya.
            Setelah selesai, kami memutuskan untuk pulang meskipun harus menerjang guyuran hujan karena sudah terlalu malam. Ia mengiringiku dari samping dengan motornya. Ia terkekeh menatapku seperti anak kecil yang suka memainkan air hujan dengan jemariku sambil sesekali meleparkan air kearahnya. Malam yang begitu dingin terasa hangat oleh tawa lepas kita berdua. Tak ada yang pernah tahu jika semua itu akan menjadi kenangan yang kelak begitu kurindu.


(Bersambung.....)

1 komentar:

Safiraa711 mengatakan...

Keren, kata kata nya good :) Next next :")

Posting Komentar