Senin, 20 Oktober 2014 | By: Zahra Abdullah

JANJI HUJAN
(cerita bersambung eps. 2)
Ada dua waktu yang selalu kutunggu.
Purnama, dimana bulan membulat sempurna saat pancaran sinarnya begitu terang membuat malam tak lagi kelam. Serta... hujan, dimana kali pertama kita dipertemukan hingga keindahan purnama seakan tergantikan.
            Aku sempurna terkejut ketika seorang pelayan lelaki berbadan tambun  memberiku secarik kertas berisikan sajak tersebut. Aku mengedarkan pandangan disekelilingku. Rumah makan bergaya etnic tempatku berada memang selalu ramai pengunjung terutama di malam hari. Bilik-bilik kayu sebagai tempat menyantap hidangan dengan penyekat bambu-bambu kecil menyuguhkan suasana tradisional serta alunan musik angklung yang begitu merdu menjadi pelengkap daya pikat rumah makan ini, sebuah nuansa yang mengingatkanku pada desa kelahiran ibuku. Namun sejauh mata memandang aku tak menemukan seseorang yang kucari.
“Amira, kamu lagi nyari apa?” suara Kinan membuyarkan konsentrasiku.
“Orang yang ngirim kertas ini.” Sahutku sambil terus mengedarkan pandangan.
“Duh Miraaa...kenapa gak tanya sama mas yang tadi ngasih aja sih?”
God! What a stupid I am! Kinan benar, kenapa gak tanya langsung sama pelayan yang tadi sih? Amiraa..where’s your mind?? Dengan langkah seribu aku segera mencari pelayan itu. Yes, akhirnya ketemu.Bukan perkara sulit untuk mencarinya, karena tubuhnya yang relatif besar membuatnya mudah ditemukan meskipun berada ditengah kerumunan.
“Mas, saya mau tanya siapa yang mengirimkan kertas ini?” aku mengulurkan kertas yang sedari tadi tak lepas dari genggamanku.
“Oh..itu tadi dari seorang pria di meja nomor 75. Di lantai atas.” Jawabnya cepat karena menahan beban makanan diatas nampan yang tengah dibawanya.
“Okey..makasih mas.” Tanpa menunggu aba-aba aku segera menuju ke lantai atas. Dari atas terlihat jelas pemandangan dibawah. Meskipun aku sering ke rumah makan ini, namun baru kali ini aku menginjakkan kakiku dilantai atas. Jika di lantai bawah menyuguhkan alunan musik angklung serta ornamen-ornamen tradisional lainnya, di lantai atas agak sedikit berbeda yaitu dengan gaya semi modern meskipun tetap menggunakan rumah-rumah panggung  terbuat dari kayu yang didesain lebih modern. Ruangan yang sangat luas dengan atap langit yang menawan. Ditengah-tengah ruangan terdapat kolam air mancur yang dihias dengan lampu kerlap-kerlip disetiap sudutnya membuat pancaran seribu cahaya. Pada setiap rumah panggung terdapat lukisan penuh warna dan diatasnya tergantung lampu-lampu kristal berukuran sedang. Suara gemericik air dan alunan musik jazz menambah kesan romantis dimana kita juga bisa melihat kerlip bintang di langit bebas. Aku tertegun. Ternyata begitu banyak keindahan yang telah kulewatkan.
            Plaakkk..Tanganku refleks menepuk jidat. Amiraaaaaa....kenapa malah melamun, ingat pria nomor 75!! Akupun tergesa mencari meja nomor 75. Setelah mengitari seluruh ruangan akhirnya aku mendapati meja yang terletak disudut ruangan. Dan demi apapun, ingin rasanya teriak sekencang-kencangnya karena meja tersebut KOSONG. Aaarrrgghhh...Aku mendengus sebal mencoba meredam amarah dengan menarik dapas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Percaya atau tidak cara itu bisa mengurangi emosi meskipun hanya satu koma sekian persen. Well, tapi patut dicoba kan?
 Belum reda rasa kesalku tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku dari belakang. Karena masih terbawa emosi akupun berbalik sambil memasang kuda-kuda dan mengepalkan kedua tanganku.
“Weitssss...santai aku bukan penjahat kok. Peace. Hehehe.” Seorang pria berbadan tinggi kekar tengah berada di depanku meringis memamerkan jajaran giginya yang putih sambil mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
“eh...ehmmm sorry.” Aku menundukkan kepalaku, salah tingkah karena melakukan hal bodoh. Akupun mulai menggaruk-garuk rambutku yang tidak terasa gatal sambil terus merutuki diriku sendiri dalam hati. Pria di depanku tertawa renyah. Akupun mendongakan kepalaku berusaha menatapnya. Mataku terbelalak. Tuhan, ini bukan mimpi kan?!
“Ini bukan mimpi.” Pria itu tersenyum simpul seperti bisa membaca pikiranku.
“Ka..Kamu bisa....” Lidahku tercekat.
“Membaca pikiran..tentu saja bisa.” Jawabnya cepat.
“Really?????” Jeritku tanpa kontrol.
Pria di depanku terkekeh. Aku hanya bisa mengernyitkan dahi sambil memandangnya dengan takut. Karena melihat eksprsiku akhirnya dia berusaha menghentikan tawanya.
“Ehm..sorry aku kelepasan. Jadi kamu pikir aku benar-benar bisa membaca pikiran orang?”
Aku hanya mengangguk-ngangguk sambil menatapnya serius.
“Kamu tahu, hal itu hanya ada di film ataupun cerita-cerita fiksi lainnya. Tentu saja tidak, aku hanya asal menebak. Dan tebakanku ternyata benar.” Ia tersenyum kepadaku.
Dan lagi-lagi aku melakukan hal-hal bodoh di depan orang yang baru ku kenal. What a shame!!
“Apa kau masih mengenaliku?” ucapnya tiba-tiba.
“Ehm..tentu saja. Pria di dalam gerbong kereta.” Aku tersenyum malu-malu.
“Syukurlah.” Lagi-lagi ia memasang senyum manis di wajahnya.
“Apa kau yang memberikan ini?” aku memperlihatkan secarik kertas yang sudah sedikit teremas.
Ia mengangguk sambil tersenyum lebar. “Bukankah takdir yang menyenangkan?” lanjutnya.
 Mata kami saling beradu. Aku terkejut ketika bulir-bulir lembut menerpa wajahku. Secara bersamaan kami mendongakkan kepala menatap langit. Benar saja gerimis terjuntai secara perlahan membaur bersama tanah yang merekah. Kami saling melepar tawa membiarkan hujan membasuh tubuh kita di pertemuan yang kedua.
Maka tak ada yang lebih indah selain menjadi saksi dari janji hujan yang tak pernah ingkar membasuh kerontang.

(Bersambung...)
  .................................................................................................................................................

Sabtu, 18 Oktober 2014 | By: Zahra Abdullah
Cerbung: JANJI HUJAN
(cerita bersambug eps 1)
            Malam ini aku merindukanmu. Entah kau merasakan hal yang serupa ataupun sebaliknya. Aku tak akan menyalahkanmu jika pada akhirnya kau membenciku. Aku mungkin memang pantas kau benci atau bahkan kau caci sekalipun atas  keputusan yang telah kupilih. Tapi ku harap aku tak berdosa karena mengingatmu kembali.
......................................................................................................................................................
           Gelegar petir bersahutan, rintik yang sedari tadi menggelitik perlahan mulai menderas. Kutengadahkan tanganku keatas. Alisku berkerut sambil menatap jalan yang mulai lengang. Aku mulai mengedarkan pandangan gelisah. Aku menyukai hujan tapi tidak untuk malam ini.
          “Oh come on! Kenapa harus bocor saat seperti ini sih!” Aku mendengus kesal sambil menekan nekan ban sepeda motorku yang kempis.
           Bulir-bulir bening itu mulai menjuntai membasah sekujur tubuhku. Akupun menepikan motorku disebuah bilik kayu untuk tempat berteduh. Aku menepuk-nepuk bajuku berharap rasa dingin yang mulai menyergap ikut berjatuhan bersama tetesan air ke tanah. Kuambil ponsel yang sedari tadi menyelip disaku celana jeans yang kini berubah warna lebih pekat akibat guyuran hujan, mencoba mencari kontak seseorang yang selalu bisa kuandalkan. Namun belum sempat aku menekan menu call tiba-tiba ponselku berdering mengalunkan irama musik salah satu penyanyi favoritku David Archuleta “to be with you” lagu spesial untuk kekasihku. Senyumku mulai mengembang, sesegera mungkin kuangkat.
          “Hallo..” suara hangat yang selalu kurindukan menyapaku.
         “Panjang umur deh, baru aja mau aku telfon.” Sahutku.
          “Kamu belum sampai rumah? Suara hujannya jelas banget. Sudah malam kan, lagi dimana sekarang?” seperti biasa, rentetan pertanyaan terucap ketika Ia tengah khawatir.
          “Ban motorku bocor, sejauh ini belum ketemu bengkel. Jalanan juga sepi. Aku disekitar Jalan Diponegoro, dekat rumah Kinan.”
          “Yaudah kamu tunggu disitu, sekarang juga aku kesana.” Ujarnya sambil menutup pembicaraan secara singkat.
          Aku menatap langit-langit malam yang begitu pekat. Dulu aku selalu takut ketika mendengar suara petir yang begitu kencang. Aku mengumpat ketika langit mulai meneteskan ribuan kubik air melalui rongga-rongganya. Sampai pada suatu hari kita dipertemukan di kursi tunggu sebuah stasiun dibawah guyuran hujan. Ketika mata kita tak sengaja saling beradu. Dan sedikit senyum malu-malu. Masih teringat jelas saat kereta yang kita tunggu terbuka lebar. Aku menunggu Ibu yang keluar dari salah satu pintu, sedangkan kau berjalan pelan masuk kedalam melaui pintu yang sama. Kita masih saling melempar pandang. Hingga bunyi mesin kereta mulai bergemuruh bersamaan dengan menutupnya pintu kereta dan kau masih berdiri mematung menatapku. Lalu mulutmu terbuka hendak menggumamkan kata, namun roda-roda besi itu mulai melesat meninggalkan tempat pemberhentiannya. Pertemuan yang begitu singkat. Hanya saling melempar pandang. Tapi entah kenapa hatiku berdegup lebih kencang dari biasanya dan membuatku merindukan hujan untuk pertama kalinya.   
................................................................................................................................
          “Berhenti melakukan itu.” tangannya yang kekar menggenggam jemariku yang sedari tadi menjamah rinai hujan yang masih lebat.
        “Kau tahu, ini sangat menyenangkan.” Aku tersenyum sambil melepaskan genggaman tangannya dan kembali menengadahkan jemariku untuk bersentuhan dengan derai hujan.
        “Kau juga harus tahu kalau tanganmu bisa membeku kedinginan jika terus seperti itu.” kali ini dia menggenggam kedua tanganku kencang mencoba memberi kehangatan.
         “Terima kasih.” Ucapku setengah berbisik.
         “Untuk apa?”
         “Membuatku menyukai hujan.”
          “Kalau begitu aku juga harus berterima kasih pada hujan.” Genggamannya semakin erat.
          “Untuk apa?” kataku mengulang pertanyaannya.
          “Karena membuatku mencintaimu.”
           Pipiku merona, kutatap matanya yang lebar, ada binar kebahagiaan yang begitu tulus. Senyumnya selalu tersungging kala menatapku. Dan aku begitu luluh berada disampingnya.
       “Ehem..maaf mas ini motornya sudah jadi.” Suara berat seorang lelaki paruh baya mengagetkan kami. Sontak kami menjadi salah tingkah dan melepaskan genggaman tangan yang sedari tadi tengah erat.
     “eh oh..i iyaa pak, makasih. Berapa ini jadinya pak?” katanya tergagap lucu. Aku hanya terkikik melihat tingkahnya.
            Setelah selesai, kami memutuskan untuk pulang meskipun harus menerjang guyuran hujan karena sudah terlalu malam. Ia mengiringiku dari samping dengan motornya. Ia terkekeh menatapku seperti anak kecil yang suka memainkan air hujan dengan jemariku sambil sesekali meleparkan air kearahnya. Malam yang begitu dingin terasa hangat oleh tawa lepas kita berdua. Tak ada yang pernah tahu jika semua itu akan menjadi kenangan yang kelak begitu kurindu.


(Bersambung.....)